Powered By Blogger

Jumat, 06 September 2013

PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA DAN NEGARA-NEGARA DI KAWASAN ASIA DAPAT MENJADI MOTOR PEMULIHAN KRISIS EKONOMI GLOBAL


PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA DAN NEGARA-NEGARA DI KAWASAN ASIA DAPAT MENJADI MOTOR PEMULIHAN KRISIS EKONOMI GLOBAL

Animo berbagai kalangan di wilayah San Francisco Bay Area yang ingin mengetahui informasi terkini tentang perkembangan ekonomi Indonesia sangat tinggi. Hal ini terbukti dengan banyaknya peserta yang hadir pada
acara Promosi Ekonomi Indonesia yang berjudul “Indonesia Recent Economy Update and Its Roles in ASEAN”,
dimana hadir sekitar 75 orang, yang
melebihi perkiraan semula.
Para hadirin yang terdiri dari berbagai kalangan ini
meliputi: para pejabat pemerintah, kalangan Korps Konsuler, para pimpinan dan
anggota Chamber of Commerce, para
akademisi, para pelaku usaha berbagai sektor, dan para pejabat institusi
keuangan, serta perwakilan media massa lokal. Acara ini diadakan oleh Konsulat
Jenderal R.I di San Francisco tanggal 1 Februari 2012 bertempat di Hotel InterContinental, San
Francisco. Acara ini juga dihadiri oleh Wakil Menteri Keuangan, Mahendra Siregar, sebagai pembicara
utama, yang dimoderatori oleh Sean Randolf, President & CEO Economic
Institute, Bay Area Council.

Dalam paparannya, Wamenkeu Mahendra Siregar menyampaikan tentang resistensi ekonomi Indonesia terhadap resesi ekonomi
global dengan mengutarakan berbagai faktor dominan yang sangat berpengaruh antara
lain tingginya kebutuhan domestik atas consumer
goods, sustainability of growth,
konsistensi kebijakan fiskal, dan kecilnya defisit anggaran pemerintah.
Pertumbuhan
ekonomi negara-negara di Asia dari tahun ke tahun terus mengalami perkembangan,
sementara itu keadaan ekonomi di berbagai kawasan dunia lainnya mengalami
penurunan. Di ASEAN sendiri mengalami kenaikan pertumbuhan dari 4,8 % tahun
2010 menjadi 5,2% tahun 2011. Perdagangan antar negara ASEAN juga terus
berkembang dan meningkat secara signifikan. Peranan negara China di ASEAN
justru semakin mempercepat integrasi negara-negara ASEAN. Walaupun demikian,
pendanaan sejumlah transaksi dagang mayoritas berasal dari institusi keuangan
dunia Barat. Negara-negara di Asia memiliki GDP sebesar 33% dari GDP dunia,
namun Asia memberikan kontribusi sebesar 55% kepada pertumbuhan ekonomi dunia.
Wamenkeu menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia dan
negara-negara di kawasan Asia dapat menjadi motor pemulihan krisis ekonomi
global.
Nampak adanya respon dan kesan yang sangat positif dari mereka
yang hadir. Disampaikan Wamenkeu Mahendra Siregar sangat
bermanfaat bagi para stake holders di
San Francisco Bay Area. Disamping untuk meng-update pengetahuan mereka tentang keunggulan pertumbuhan ekonomi Indonesia
dibanding dengan beberapa negara di Asia dan kawasan dunia lainnya, diharapkan
para pelaku usaha dan stake holders
tergerak untuk tetap engage Indonesia
dan merealisasikan bisnis mereka di Indonesia dalam waktu dekat.
Kegiatan ini merupakan rangkaian program kerja KJRI San
Francisco tahun 2012 untuk mempromosikan potensi ekonomi nasional Indonesia di
Wilayah Kerja. Di tengah terpuruknya ekonomi dunia dan kelesuan aktifitas
ekonomi AS termasuk di wilayah Kerja dimana para pelaku bisnis setempat masih
terus berjuang untuk keluar dari masa-masa sulit mereka, KJRI SF tidak
henti-hentinya mempromosikan potensi besar yang dimiliki Indonesia kepada
berbagai kalangan. Hal ini dimaksudkan untuk menarik minat masyarakat setempat
khususnya para pelaku usaha dan stake
holders AS agar tetap melirik potensi besar Indonesia serta menjadikannya
sebagai destinasi kegiatan usaha mereka.

Kondisi Perekonomian Dunia dan dampaknya untuk Negara Indonesia pada tahun 2012

Kondisi Perekonomian Dunia dan dampaknya untuk Negara Indonesia pada tahun 2012

Perekonmian Dunia yang belakangan ini tidak menentu membuat sejumlah Negara maju menjadi was – was, terutama untuk kawasan Eropa. Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan ekonomi dunia pada 2012 diperkirakan menjadi 3,3 persen. Angka ini lebih rendah dari perkiraan sebelumnya 3,7 persen.Gambar
“Penyelesaian krisis yang dialami negara-negara Eropa, terkait utang dan defisit fiskal, masih akan memakan waktu dan ketidakpastian,” papar Kepala Biro Humas BI Difi A Johansyah, di Gedung BI, Jakarta, Kamis (9/2/2012).
Sementara pemulihan ekonomi Amerika Serikat (AS) masih lemah. Hal tersebut pada perdagangan global yang menurun dan berpengaruh kepada kinerja ekonomi negara-negara emerging market termasuk Indonesia. aktifitas ekonomi global yang melemah, harga komoditas global non-energi cenderung menurun dan disertai dengan penurunan tekanan inflasi global. Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde mengatakan bahwa lembaga keuangan internasional yang berbasis di Washington itu hampir pasti akan menurunkan porkas pertumbuhan dunia 2012 karena krisis hutang zona euro. Di dalam laporan Perkembangan Ekonomi Dunianya September lalu, IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global 4% untuk 2012.
Karena krisis hutang di zona euro semakin memburuk dan kebijakan negara-negara ekonomi maju utama semakin tidak jelas, prospek ekonomi dunia nampaknya semakin kurang optimistis. Setelah menghadapi krisis hutang zona euro selama dua tahun terakhir, ekonomi Jerman menghadapi risiko resesi karena dunia bisnis yang gelisah menahan investasinya dan ekspor menjadi lemah.  “Ini memang bukan resesi klasik. Kita sedang menghadapi keadaan yang benar-benar tidak pasti akibat krisis zona euro yang akan memberatkan investasi dan perdagangan,” kata Felix Huefner, ekonom OECD di Paris yang mengikuti terus perkembangan Jerman.
Sementara itu, ekonomi Italia yang menciut dalam kuartal ketiga membuat negara itu berada dalam keadaan menuju resesi berkepanjangan akibat tuntutan penghematan habis-habisan untuk mengatasi beban hutangnya.
IMF menyerukan diambilnya langkah-langkah lebih jauh dalam menghadapi berbagai tantangan agar terhindar dari krisis global berikutnya. “Jika tidak berbuat apa-apa, jelas akan terjadi krisis… dan dengan kondisi yang semakin menyangsikan ini, keadaan akan semakin memburuk di semua negara di dunia yang akan mengalami akibatnya tanpa kecuali,” kata Lagarde. Blanchard yang mengatakan bahwa “kebijakan-kebijakan sepihak dan tak sempurna hanya akan membuat keadaan lebih buruk,” memperingatkan, “mengembalikan pemulihan jauh lebih sulit dari setahun lalu.” Diperlukan kebijakan berani dan lebih tegas, termasuk rencana konsolidasi fiskal yang kredibel namun realistis, persediaan likuiditas, penerapan rencana-rencana yang sudah diumumkan, dan lebih banyak kolaborasi efektif di kalangan semua yang terlibat, katanya.
Kendati demikian, krisis Eropa dan Amerika Serikat (AS) dinilai tidak akan berdampak ke Indonesia. Kondisi perekonomian di Tanah Air sepanjang 2011 bisa dibilang kuat dan stabil, sehingga bisa dipastikan ekonomi Indonesia pada 2012 siap lepas landas,” kata Husni dalam diskusi ekonomi bersama Financial Reform Institute di Cikini, Jakarta, Selasa 17 Januari 2012.  Pengamat ekonomi sekaligus Direktur Keuangan Financial Reform Institute Muhammad Husni Thamrin menyatakan, perekonomian Indonesia pada 2012 siap untuk lepas landas.
Hal ini tidak lepas dari terus meningkatnya tingkat Produksi Domestik Bruto seperti yang dikatakan oleh Menteri BUMN, Dahlan Iskan. “Tahun lalu (2011) ekonomi kita telah mengalahkan Belanda, tahun ini (2012) kita harus bisa melampaui ekonomi Spanyol,” tegasnya. PDB Indonesia pada akhir 2011 menembus 800 miliar dolar AS, berarti mengalahkan ekonomi Belanda yang mencapai 700 miliar dolar AS. Melihat pertumbuhan ekonomi nasional yang terus positif di atas 6 persen per tahun, bukan hal yang mustahil Indonesia dapat disejajarkan dengan ekonomi negara-negara maju dalam beberapa tahun ke depan. Gambar
Kembali kepada pernyataan  dari Husni, Kondisi perekonomian di Tanah Air sepanjang 2011 bisa dibilang kuat dan stabil, sehingga bisa dipastikan ekonomi Indonesia pada 2012 siap lepas landas .Tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2011 mencapai 6,5 persen dengan inflasi sebesar 3,79 persen.  Hal ini sesuai data yang di dapat dari IMF ( International Monetary Financial ). Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2012 sebesar kurang lebih 6,3%, jauh di bawah target pemerintah 6,7% akibat perlambatan ekspor. Namun, lembaga keuangan internasional ini menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini menjadi 6,4% dari prediksi sebelumnya 6,2%. Proyeksi pertumbuhan 2011 juga masih lebih rendah dibandingkan target pemerintah yang sebesar 6,5%. Namun, Angka tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di ASEAN serta negara dengan angka inflasi terendah se-Asia Pasifik,” kata Husni.
Rasio utang terhadap PDB sebesar 0,25 persen, cadangan devisa 110 miliar dolar AS, bunga dasar 6 persen dan defisit anggaran kurang dari 2 persen terhadap PDB menunjukkan kekuatan dan stabilitas ekonomi Indonesia pada 2011.
“Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada 2011 yang mencapai 700 miliar dolar AS membuat Indonesia terdaftar sebagai anggota G-20 (negara-negara dengan volume ekonomi terbesar di dunia),” ujar Husni.
Di samping itu, selama tujuh tahun terakhir angka kemiskinan di Indonesia terus menurun.
“Secara keseluruhan, jumlah penduduk miskin Indonesia turun dari 36,1 juta orang atau 16,66 persen dari total penduduk pada Februari 2004 menjadi 29,9 juta orang atau 12,36 persen dari total penduduk pada September 2011,

Sumber: copy right 
http://www.kelompokinti3.blogspot.com/v2/index.php?

Perekonomian Indonesia Membaik di Tahun 2012

BI: Perekonomian Indonesia Membaik di Tahun 2012

 
Rabu (26/9) bertempat di Ruang Sidang Lantai 7 Gedung F Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB) diselenggarakan Kuliah Tamu Bank Indonesia dengan tema “Kebijakan Moneter Indonesia”. Kuliah tamu yang dihadiri oleh mahasiswa FEB UB ini mengundang Dr Sugeng (Direktur Eksekutif Kepala Grup Kebijakan Moneter Bank Indonesia) sebagai pemateri. Dalam paparan awal, Dr Sugeng memberikan penilaian terhadap perekonomian terkini Indonesia yang semakin membaik dilihat dari beberap indikator yaitu kinerja perekonomian domestik yang masih tetap sejalan dengan kapasitas ekonomi, didukung kuatnya konsumsi dan investasi; neraca pembayaran Indonesia pada triwulan III-2012 diprakirakan mengalami perbaikan; tekanan inflasi masih terkendali meskipun meningkat didorong oleh faktor musiman (hari raya); dan tekanan harga pangan dan tekanan terhadap inflasi nilai tukar Rupiah pada Agustus 2012 yang masih terus berlanjut namun dengan intensitas yang menurun.
Menghadapi kondisi tersebut, Bank Indonesia sebagai bank sentral memberikan respon berupa kebijakan dengan mempertahankan BI Rate sebesar 5,75% per 13 September 2012. Disamping itu, BI terus melakukan evaluasi terhadap dampak kebijakan yang ditetapkan serta melakukan koordinasi dengan pemerintah dalam mengelola permintaan domestic agar tetap sejalan dengan upaya menjaga kestabilan ekonomi makro dan kesinambungan pertumbuhan ekonomi nasional. Tidak berhenti pada pemaparan mengenai perekomian Indonesia saat ini, Dr Sugeng turut memberikan pandangan dan perbandingan mengenai perekonomian global dan perekonomian domestik serta kebijakan  Bank Indonesia.
Outlook Ekonomi Dunia
Ditunjukkan oleh Dr Sugeng hasil proyeksi Lembaga Internasional dan Consesus Forecast (CF) untuk tahun 2012 yang dikatakan lebih buruk dari yang diperkirakan. Perekonomian negara-negara yang berpengaruh terhadap perekonomian global seperti AS dan Cina serta negara-negara Eropa masih cenderung rentan dan melemah. Kegiatan produksi EU, mengalami kontraksi meski sedikit membaik. Namun, indikator konsumsi masih melambat karena tingginya pengangguran. Sedangkan untuk kawasan Asia, Dr Sugeng memperlihatkan tren perlambatan pada indeks produksi, khususnya Cina yang tidak sebaik yang diprakirakan. Pada pasar keuangan dan komoditas global, masih rentan. Harga komoditas masih dalam tren menurun meski mulai terbatas.
Perekonomian Domestik
Di dalam negeri, pertumbuhan konsumsi rumah tangga cukup tinggi didukung oleh tingkat kepercayaan masyarakat terhadap prospek ekonomi dan terkendalinya inflasi. Kegiatan investasi di Indonesia menunjukan posisi yang kuat didukung pembiayaan investasi yang baik dari perbankan atau investasi langsung. Sedangkan untuk kegiatan ekspor, keadaan yang sedikit membaik terjadi karena membaikanya prospek beberapa negara mitra dagang utama, walaupun dibayangi resiko pelemahan perekonomian global. Kondisi industri seperti pengolahan, perdagangan, hotel, restoran, pengangkutan dan komunikasi pada triwulan III 2012 diprakirakan masih tumbuh baik
5 Pilar Kebijakan Bank Indonesia Tahun 2012
Pada akhir presentasinya, Dr Sugeng memaparkan 5 pilar kebijakan Bank Indonesia tahun 2012 yang digunakan sebagai dasar untuk mempertahankan kondisi yang terus membaik dan memperbaiki kondisi yang cenderung rentan dan melemah baik yang dipengaruhi oleh perekonomian global maupun domestik, yaitu mengoptimalkan peran kebijakan moneter dalam menjaga stabilitas makroekonomi, dan mendorong stabilitas pasar keuangan; meningkatkan efisiensi perbankan untuk mengoptimalkan kontribusinya dalam perekonomian, dengan tetap memperkuat ketahanan perbankan; meningkatkan efisiensi, kehandalan dan keamanan sistem pembayaran baik nasional maupun luar negeri; memperkuat ketahanan makro dan stabiltas sistem keuangan dengan memantapkan koordinasi dalam manajemen pencegahan dan penanganan krisis (PMK); serta mendukung pemberdayaan sektor riil termasuk melanjutkan upaya perluasan akses perbankan kepada masyarakat. (ris)

Sumber: copy right http://www.kelompokinti3.blogspot.com/v2/index.php?

Menkeu Optimistis Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tahun 2012 Capai 6,5 Persen

Menkeu Optimistis Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tahun 2012 Capai 6,5 Persen

Kamis, 06 Desember 2012 19:31 WIB

gambar berita warta ekonomi - menkeu optimistis pertumbuhan ekonomi indonesia tahun 2012 capai 6,5 persen Menteri Keuangan Agus D.W. Martowardojo optimistis, ekonomi Indonesia dapat tumbuh hingga 6,5 persen pada tahun 2012.
"Untuk tahun 2012 sampai dengan kuartal ketiga, pertumbuhan ekonomi berada pada 6,3 persen. Kita optimis bahwa pertumbuhan ekonomi dapat tumbuh di 6,3-6,5 (persen) selama 2012," kata Menkeu dalam pembukaan Seminar International Stabilitas Keuangan "Financial Stability Through Effective Crisis Management and Inter-Agency Coordination" pada Kamis (6/12) di Bali.

Angka tersebut meneruskan tren peningkatan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang telah mampu tumbuh menyentuh angka 6,1 persen pada tahun 2010 dan 6,5 persen pada tahun 2011. Lebih lanjut Menkeu menyampaikan, selain mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, pemerintah juga telah berhasil menjaga stabilitas ekonomi.

"Senada dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, pemerintah juga dapat menjaga stabilitas ekonomi dengan tingkat inflasi sampai dengan Bulan November 2012 sebesar 4,32 persen year on year (yoy) dan diharapkan dapat berada pada 4,5 persen yoy sampai dengan akhir 2012," jelas Menkeu.

Nilai tukar rupiah, lanjutnya, juga dapat dijaga pada kisaran Rp9.353 per dolar AS dengan deviasi sebesar 7,51 poin selama Januari hingga November 2012. Angka ini sedikit lebih tinggi dari perkiraan pemerintah yang sebesar Rp9.250 per dolar AS.

Selain itu, sisi fiskal juga menunjukkan kinerja positif, di mana penerimaan negara sampai dengan Bulan Oktober telah mencapai 73 persen dari target yang sebesar Rp1.358 triliun yang ditetapkan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2012. Pendapatan dari sektor pajak mencapai 75 persen, sementara sektor non pajak sebesar 66 persen. Terkait dengan belanja, hingga Oktober 2012, belanja pemerintah telah mencapai 69 persen dari budget dan belanja subsidi masih menjadi isu sebesar 90 persen dari budget.

Sektor pasar keuangan juga mengalami peningkatan kinerja yang ditunjukkan dengan diperolehnya kembali Investment Grade Rating for Indonesia Sovereign Credit Rating. Tahun lalu, Fitch Rating telah meningkatkan peringkat dari BB+ ke BBB-. Peningkatan credit rating ini diikuti oleh Moody's yang pada Bulan Januari 2012 menaikkan Indonesia Global Bond dari ba1 ke baa3 dengan stable outlook. 


Sumber: copy right http://www.kelompokinti3.blogspot.com/v2/index.php?

Catatan ekonomi 2012 dan prospek 2013

Catatan ekonomi 2012 dan prospek 2013

Senin,  24 Desember 2012  −  08:34 WIB
Catatan ekonomi 2012 dan prospek 2013
Ilustrasi
Tahun 2012 segera berakhir. Meskipun masih dibayangi krisis global, secara umum kinerja ekonomi Indonesia sepanjang 2012 cukup baik.

Berbagai variabel makro ekonomi dan fiskal, juga berbagai indikator di sektor finansial dan sektor riil mengonfirmasikan hal tersebut. Untuk sektor finansial, perbaikan diwarnai dengan tren penguatan IHSG dan penurunan yield SUN secara persisten.

Ini merupakan buah positif dari peringkat investment grade yang disandang Indonesia saat ini. Stabilitas ekonomi juga relatif terjaga yang tercermin dari laju inflasi dan kurs rupiah yang terkendali. Inflasi kumulatif hingga November 2012 tercatat 3,73 persen (atau 4,32 persen yoy), masih berada pada sasaran inflasi 2012 sebesar 4,5 persen ±1 persen.

Sementara itu, perbaikan kinerja sektor riil tercermin dari penguatan investasi langsung yang realisasinya hingga triwulan III/2012 mencapai Rp230 triliun atau naik 27 persen dibandingkan tahun lalu. Kondisi ini tentu menciptakan efek pengganda yang tinggi bagi perekonomian.

Di lain pihak, tingginya konsumsi masyarakat telah berimplikasi pada penguatan kinerja impor dewasa ini. Namun, kinerja ekspor relatif masih lemah akibat rendahnya permintaan dunia, sehingga neraca perdagangan cenderung defisit.

Menyikapi hal ini, pemerintah akan terus mengupayakan berbagai terobosan guna meningkatkan kinerja ekspor seperti kebijakan diversifikasi, baik dari sisi destinasi maupun komoditas ekspor. Hal yang paling penting, di tengah kontraksi global, ekonomi Indonesia tetap tumbuh cukup kuat.

Dalam tiga triwulan ini,ekonomi tumbuh rata-rata 6,3 persen dan pemerintah optimistis pertumbuhan agregat tahun 2012 akan tetap di atas 6 persen dengan dukungan dua mesin pertumbuhan, yaitu konsumsi masyarakat dan investasi. Dari sisi fiskal, ketahanan fiskal dewasa ini juga semakin kuat tercermin dari rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) yang cenderung turun.

Awal tahun 2000, rasionya masih di atas 80 persen dan kini turun menjadi 24 persen. Realisasi defisit fiskal dalam lima tahun terakhir dapat dijaga di kisaran 1 persen dari PDB. Hal ini tentu akan meningkatkan fleksibilitas fiskal dalam pembiayaan pembangunan dan menunjukkan masih tersedianya ruang fiskal yang cukup untuk antisipasi dampak krisis global.

Prospek 2013

Pada tahun 2013, pemerintah melihat ekonomi global masih diwarnai tekanan dan ketidakpastian. Karena itu, pemerintah telah menyiapkan sejumlah instrumen proteksi krisis untuk menjaga stabilitas pertumbuhan dan ekonomi. Untuk mengamankan target pertumbuhan 6,8 persen tahun 2013, pemerintah akan tetap memaksimalkan dua mesin pertumbuhan, yaitu konsumsi masyarakat dan investasi.

Pentingnya penguatan konsumsi masyarakat didasari faktor alamiah bahwa Indonesia adalah negara dengan populasi terbesar ke-4 dunia, yaitu 240 juta jiwa. Dengan penduduk besar, berarti daya dukung konsumsi masyarakat terhadap pertumbuhan juga semakin besar.

Terbukti, dalam tiga tahun terakhir, rata-rata distribusi konsumsi masyarakat terhadap pembentukan PDB mencapai 57 persen. Selain itu, melalui momentum demographic dividend (suatu fenomena di mana populasi didominasi oleh usia produktif) akan mendorong penguatan konsumsi masyarakat.

Tumbuhnya kelompok middle income class dewasa ini juga semakin memperkuat kontribusi konsumsi masyarakat terhadap pertumbuhan ekonomi. Diperkirakan, Indonesia akan menikmati puncak dari keuntungan tersebut di tahun 2030.

APBN 2013 juga didesain untuk memberikan penguatan bagi konsumsi masyarakat melalui berbagai program, seperti Program Keluarga Harapan, Program Jamkesmas, dan PNPM Mandiri. Selain itu, penguatan konsumsi masyarakat juga dilakukan melalui alokasi berbagai subsidi baik subsidi energi maupun subsidi nonenergi.

Kebijakan yang tidak kalah penting untuk tetap menjaga daya beli masyarakat adalah kenaikan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) sebesar 55 persen mulai Januari 2013. Stimulus fiskal ini diharapkan akan efektif mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan tetap menjaga aspek kesetaraan ekonomi masyarakat. Untuk meningkatkan investasi langsung, khususnya PMA, pemerintah akan terus menjaga iklim investasi yang baik dan mengevaluasi insentif fiskal.

Saat ini, telah disediakan tax holiday untuk beberapa industri pionir, berupa pembebasan PPh Badan selama 5–10 tahun dan dua tahun berikutnya hanya membayar 50 persen PPh Badan. Selain itu, juga disediakan tax allowance berupa fasilitas kemudahan berinvestasi dengan pengurangan penghasilan neto 30 persen, depresiasi dan amortisasi dipercepat, pengurangan tarif dividen, dan perpanjangan masa kompensasi kerugian.

Melalui penguatan konsumsi masyarakat dan investasi, diharapkan resiliensi pertumbuhan ekonomi terhadap krisis dapat ditingkatkan. Ketika intensitas krisis semakin dalam dan kinerja ekspor terus melemah, konsumsi masyarakat dan investasi menjadi penyeimbang untuk tetap menjaga ekonomi agar bias berekspansi.

Skenario ini terbukti efektif diterapkan ketika krisis 2008/2009. Bahkan diharapkan kontribusi komponen investasi terhadap pertumbuhan ekonomi 2013 (share to growth) akan melampaui konsumsi masyarakat.

Selain kebijakan di atas, pemerintah juga telah menyiapkan sejumlah kebijakan strategis guna menjaga pertumbuhan dan stabilitas ekonomi tahun 2013, seperti alokasi dana APBN untuk belanja modal yang lebih besar, yaitu Rp216 triliun atau meningkat 28 persen, pembentukan tim evaluasi untuk mendukung penyerapan belanja (TEPPA), peningkatan anggaran infrastruktur untuk mendukung ketahanan energi, ketahanan pangan, konektivitas domestik, serta destinasi pariwisata, dan merancang ulang kebijakan subsidi harga menjadi subsidi yang tepat sasaran.

Upaya efisiensi subsidi energi antara lain dilakukan melalui pengendalian volume dan beban subsidi BBM (sistem subsidi tertutup, pembatasan penggunaan BBM bersubsidi), program diversifikasi BBM ke energi alternatif, penyesuaian tarif tenaga listrik (TTL), menurunkan pemakaian BBM pada pembangkit listrik dan mengoptimalkan penggunaan gas, batu bara, panas bumi, dan energi non-BBM lainnya, serta menurunkan susut jaringan.

Dari sisi regulasi, pemerintah juga telah menerbitkan regulasi untuk pengadaan lahan untuk kepentingan umum (Perpres 71/2012) dan melalukan revisi terhadap aturan pengadaan barang/jasa pemerintah melalui Perpres70/ 2012. Pemerintah juga menyadari bahwa ekonomi Indonesia tahun 2013 akan dihadapkan pada sejumlah tantangan berat mulai dari ketidakpastian pemulihan krisis Eropa, volatilitas harga minyak dunia dan komoditas lainnya, beban subsidi energi yang semakin besar, hingga percepatan pembangunan infrastruktur.

Bahkan ketidakpastian pemulihan krisis global saat ini pun telah berdampak pada perlambatan pertumbuhan di sejumlah negaranegara berkembang termasuk China dan India yang melambat hingga di bawah rata-rata pertumbuhan dua tahun terakhir. Namun, pertumbuhan ekonomi Indonesia justru cukup kuat dan stabil.

Menurut McKinsey (September, 2012) volatilitas pertumbuhan Indonesia merupakan yang terendah di dunia, hal ini juga didukung oleh pernyataan The Economist (November, 2012) bahwa Indonesia merupakan negara dengan pertumbuhan paling stabil selama 20 triwulan terakhir. Pencapaian tersebut menjadi momentum bagi Indonesia untuk terus mempertahankan pertumbuhan ekonomi di tengah krisis ekonomi dunia dengan memanfaatkan berbagai peluang emas seperti bonus demografi dan daya tarik investasi.

Di samping itu, pemerintah pun telah terbukti mampu menjaga stabilitas pertumbuhan tanpa mengorbankan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan kebijakan fiskalnya. Dengan kinerja makroekonomi dan fiskal yang baik dilanjutkan oleh kebijakan-kebijakan yang mendukung, pemerintah optimistis segala tantangan tersebut bisa dihadapi dengan baik.


Sumber: copy right http://www.kelompokinti3.blogspot.com/v2/index.php?

Prospek Ekonomi 2013 dan 2014

Dalam acara Overview Prospek Perekonomian dan Pembangunan Nasional, Program Sekolah Staf Pimpinan BI angkatan ke-30, Senin, (03/9), Menteri PPN/Kepala Bappenas, Prof. Dr. Armida S. Alisjahbana, menyampaikan bahwa prospek ekonomi Indonesia pada tahun 2013-2014 akan lebih baik dari tahun 2012. Dalam kerangka ekonomi makro RPJMN 2010-2014, diupayakan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2014 dapat tumbuh mencapai 7 persen. Sementara hingga triwulan II tahun 2012, pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 6 persen. Sementara itu, PDB per kapita pada tahun 2013 diharapkan mencapai USD 3.445 dan pada tahun 2014 ditargetkan akan naik lagi menjadi USD 3.811.
Target peningkatan PDB ini diharapkan dapat tercapai dengan menargetkan penurunan tingkat pengangguran menjadi 5-6 persen dan tingkat kemiskinan menjadi minimal 8-10 persen pada tahun 2014. Sampai dengan triwulan II tahun 2012, tingkat pengangguran 6,7-7,0 persen dan tingkat kemiskinannya di kisaran 10,5-11,5 persen. Tingkat kemiskinan nasional diharapkan dapat diturunkan lagi pada kisaran 9,5-10,5 persen pada tahun 2013.
Pertumbuhan ekonomi ini, menurut Menteri PPN/Kepala Bappenas, didorong oleh konsumsi masyarakat yang merupakan komponen utama dari permintaan domestik, dan investasi serta ekspor barang dan jasa. Peningkatan konsumsi masyarakat tersebut akan terjadi apabila daya beli masyarakat meningkat, karenanya perlu diupayakan pengendalian inflasi dan menjaga ketersedian bahan pokok. Dalam RPJMN 2010-2014, rata-rata konsumsi masyarakat itu sebesar 5,3-5,4 persen, jelas Ibu Armida. Seperti dijelaskan sebelumnya, pertumbuhan ekonomi juga dipacu oleh pertumbuhan tingkat ekspor. Beberapa faktor yang dapat menunjang pertumbuhan ekspor tersebut, di antaranya, perlu adanya peningkatan akses pasar internasional terutama pasar nontradisional, peningkatan kualitas dan diversifikasi produk ekspor, dan peningkatan fasilitas ekspor, terang Ibu Armida.

Terkait dengan penurunan tingkat pengangguran dan tingkat kemiskinan, kualitas pekerja terus membaik. Itu terlihat dari struktur lapangan kerja formal yang mengalami peningkatan berarti sepanjang periode 2010-2012. Pada tahun 2012, struktur pekerja formal meningkat menjadi 37,2 persen. Jumlah ini naik cukup signifikan bila dibandingkan dengan tahun 2011 sebesar 34,2 persen dan tahun 2009 yang sebesar 30,5 persen. Peningkatan jumlah pekerja formal ini diikuti pula dengan adanya peningkatan struktur pekerja non-pertanian yang pada tahun 2011 mencapai 62 persen, namun pada tahun 2012 ini naik menjadi 63,5 persen. Dalam kesempatan yang sama, Ibu Armida juga menyinggung soal peranan dari skema Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) dalam Perekonomian Indonesia. Dikatakan bahwa MP3EI akan mendorong peningkatan investasi di Indonesia. Indikasi nilai investasi berdasarkan investor terbesar memang datang dari sektor swasta sebesar 49 persen, sedangkan dari pemerintah sebesar 12 persen.
Lebih lanjut disampaikan, dalam hal terjadinya perlambatan ekonomi dunia yang semakin serius dan pemulihan ekonomi dunia yang tidak sekuat tahun 2010 dan 2011, sasaran pertumbuhan ekonomi Indonesia kemungkinan perlu disesuaikan terutama pada sisi ekspor, yang pada tahun 2012 tingkat ekspor Indonesia sebesar 1,8 persen. Diharapkan pada tahun 2013 ditingkatkan menjadi 8,5 persen lalu pada tahun 2014 ditargetkan menjadi 12 persen. Dengan penyesuaian ini, basis pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2012 menjadi 6,3 persen, tahun 2013 menjadi 6,6 persen dan tahun 2014 menjadi 6,9 persen.


Sumber: copy right http://www.kelompokinti3.blogspot.com/v2/index.php?

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Mengakhiri Tahun 2012

Minggu, 30 Desember 2012

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Mengakhiri Tahun 2012



Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mempublikasikan catatan akhir tahun Indonesia di bidang ekonomi. Intinya, dari laporan yang disusun lembaga resmi think tank pemerintah ini, banyak optimisme yang ditambatkan pada wajah perekonomian Indonesia di tahun depan.

Dalam laporan publikasi resmi Bappenas yang diterima Tribunnews.com, Jumat (28/12/2012), Bappenas menyebutkan, sampai akhir 2012 ini, tingkat pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan tetap tinggi, yaitu sebesar 6,3 persen.
"Ini merupakan modal awal untuk mencapai pertumbuhan ekonomi tahun 2013, yang berdasarkan target pemerintah, pertumbuhan ekonomi tahun 2013 akan mencapai 6,8 persen (mengacu pada APBN 2013)," kata Kepala Biro Humas dan Tata Usaha Pimpinan Bappenas Thohir Afandi.

Perkiraan Pertumbuhan Ekonomi tahun 2013, yang dirilis Bank Dunia juga memberi harapan. Bank Dunia menyebut bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia bersama Cina dan sejumlah negara Asia Timur akan naik di tengah krisis yang masih membelit dunia.
Pada saat bersamaan, hasil polling terbaru dunia mengungkapkan bahwa masyarakat Indonesia bersama India dan Brazil adalah yang paling optimis bahwa ekonomi akan semakin membaik tahun depan, dengan lebih dari tiga perempatnya memberikan dua jempol mengenai prospek ekonomi global 2013.

Tidak heran, ekonom Universitas Indonesia Faisal Basri mengatakan “Indonesia adalah satu-satunya negara yang selama 2009-2012 menunjukkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi yang tidak menurun di tengah terpaan krisis ekonomi global yang belum berkesudahan sejak 2008.”

Semoga dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi di tahun 2012 ini, memberikan dampak positif bagi Indonesia dalam mengawali tahun 2013. Tetapi, ada beberapa catatan yang harus diperbaiki di tahun 2013 ini yaitu seperti pendidikan di Indonesia.
Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan OECD tahun 2012 mengeluarkan laporan tentang masalah serius dalam dunia pendidikan Indonesia.
Lembaga itu menyebut, Universitas di Indonesia gagal mengimbangi booming ekonomi. Sebagai negara dengan tingkat pertumbuhan ekonomi paling tinggi di dunia, tak ada satupun dari 92 Perguruan Tinggi Negeri atau 3.000 Perguruan Tinggi Swasta Indonesia, yang masuk ranking 400 perguruan tinggi terbaik dunia, versi lembaga pemeringkat terpercaya: Times Higher Education.
“Lulusan Universitas di Indonesia kurang memiliki keterampilan” kata laporan OECD sambil mengutip survey Bank Dunia, yang menyimpulkan bahwa kesenjangan antara kemampuan analisis, teknis dan prilaku, mengakibatkan 20 hingga 25 persen lulusan Universitas di Indonesia, masih membutuhkan pelatihan sebelum siap masuk ke pasar tenaga kerja.
Inilah persoalan serius: ekonomi yang tumbuh tinggi membutuhkan tenaga ahli, yang ironisnya tidak mampu dipenuhi oleh dunia pendidikan. Booming ekonomi kini terancam bom waktu bernama pendidikan.